Panglima Laot Aceh: “Haram” Tangkap Ikan dengan Trawl

BANDA ACEH – Panglima Laot Provinsi Aceh Bustaman menanggapi larangan penangkapan ikan dengan menggunakan pukat trawl di perairan Indonesia dan Aceh khususnya menegaskan,  bagi lembaga hukum Adat Laut, larangan tersebut bukan lah hal yang baru. Karena peraturan menangkap ikan dengan trawl adalah “haram” hukumnya alias dilarang karena merusak ekosistem laut.

Hukum tersebut, jelas Bustaman sudah ditetapkan sejak 1980, berdasarkan kearifan lokal Aceh. ikut hadir dalam diskusi bersama Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) Selasa sore (17/2/2015) di Banda Aceh.

Panglima Laot Aceh, Bustaman (tengah)|Zuhri Noviandi

Panglima Laot Aceh, Bustaman (tengah)|Zuhri Noviandi

“Bukan pukat trawl saja, jika ada pemboman ikan yang dilakuka nelayan, kami juga sering memberikan sangsi kepada mereka. Akan tetapi lembaga hukum adat tidak bisa memberi sangsi yang tegas, kami tetap melapor ke penegak hukum (polisi),” tuturnya.

Bustaman menambahkan, jika nelayan Aceh melakukan pelanggaran adat laut,  maka hal itu akan disesuiakan dengan peraturan adat masing-masing Panglima Laot di setiap  wilayah kabupaten/kota di Aceh.

Kami dari hukum adat laut memang sudah mempunyai kearifan lokal dari nenek moyang terdahulu hingga sekarang. Kalau nelayan tradisional, sampai hari ini tidak ada yang melakukan perdebatan sengketa mengenai pembagian hasil ikan di laut.

Sebut Panglima Laot Aceh selama ini  yang melakukan pelanggaran di laut adalah nelayan-nelayan asing yang “nakal” melintas di perairan Aceh, sehingga merugikan nelayan kecil (tradisional) Aceh. (zuhri)

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *