BKKBN Persiapkan Remaja Tanguh Bantu Stunting dan Raih Bonus Demografi

KISARAN | AcehNews. Net- Perilaku remaja akan menentukan kualitas sumber daya pembangunan. Sebab remaja investasi berharga bagi pembangunan dalam menghadapi bonus demografi pada 2025 dan puncaknya pada 2035.

Hal ini disampaikan Deputi Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga (KSPK) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Republik Indonesia (BKKBN RI), Nopian Andusti, pada kegiatan Penguatan Peran Serta Mitra Kerja dan Stakeholder dalam Implementasi Kegiatan Prioritas Pembangunan Keluarga Melalui Sosialisasi Pencegahan Stunting di Kabupaten Asahan, pada Jum’at (5/11/2021) lalu.

Deputi KSPK yang didampingi Direktur Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN RI, Safrina Salim, juga mengatakan, hal ini sesuai dengan amanat Presiden Joko Widodo yaitu mewujudkan generasi muda yang berdaya saing, berkarakter dan unggul.

“Penting bagi kita semua untuk membekali remaja dengan pengetahuan dan kemampuan untuk menangkal pengaruh negatif yang sangat gencar saat ini dan mencegah terjadinya perilaku yang berisiko,” kata Nopian.

Turut hadir pada acara kemitraan BKKBN dengan Komisi IX DPR RI tersebut, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Dapil Sumatera Utara, Anshori Siregar LC, plt Kepala Perwakilan BKKBN Sumut, Rabiatun Adawiyah, Koordinator Bidang KSPK, Lucy Destriaki, Sekretaris OPD KB Asahan, Rustam, dan tokoh masyarakat setempat

“Penduduk berusia remaja akan menjadi kelompok usia produktif di tahun 2020 hingga 2030, mereka inilah yang akan menjadi penentu keberhasilan pembangunan di masa yang akan datang termasuk menentukan apakah Indonesia dapat menikmati bonus demografi atau tidak, ” katanya lagi.

Selanjutnya Nopian mengatakan, syarat utama remaja menghadapi bonus demografi, remaja harus menjadi sumber daya yang sehat dan berkualitas.

BKKBN, lanjut Deputi KSPK, telah mengembangkan berbagai program bagi remaja di bawah payung Generasi Berencana (GenRe). Program ini dikembangkan dalam rangka penyiapan dan perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja.

Program GenRe, paparnya, memfasilitasi remaja untuk merencanakan kehidupannya lebih baik, sebagai ketahanan mewujudkan generasi berkualitas dan generasi emas.

“Remaja kita berisiko terhadap pernikahan usia anak, narkoba, melakukan hubungan seks pra nikah. Perilaku ini dapat berdampak pada masa depan mereka, dan ini akan menentukan kualitas mereka kelak sebagai sumber daya pembangunan,” demikian pesan Nopian.

Sementara itu keynote speaker, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Anshori Siregar mengatakan, permasalahan remaja merupakan permasalahan yang sangat komplek mulai dari jumlahnya remaja yang produktif cukup besar, kualitas remaja, hingga masalah perilaku beresiko.

Untuk itu ia mengajak orangtua di Sumatera Utara dan Kabupaten Asahan agar terus melakukan pengawasan terhadap remaja agar tidak bergaul bebas dan melakukan hal-hal negatif yang dapat merusak moral dan kesehatan mental maupun kesehatan produksi.

Menurutnya remaja yang sehat, cerdas, dan kuat, modal untuk pembangunan dan berdaya saing di dalam menyambut bonus demografi. Remaja yang sehat dan cerdas kata dia lagi lahir dari rahim ibu yang sehat dan perkawinan yang direncanakan.

“Remaja harus merencanakan masa depannya dengan baik, tidak terlibat narkoba, tidak putus sekolah, dan sehat, ” demikian tutupnya. (San)

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *