Yuk. Melancong ke Aceh Singkil

Aceh Singkil memiliki kekayaan objek wisata laut dan hutan rawa yang tak ternilai. Keragaman hayati bukan saja pada pepohonannya saja, tetapi juga ikan rawa maupun laut yang beragam, orangutan, harimau sumatera, beruang madu, wau-wau tangan putih, dan satwa langka lainnya.

Saat bertandang pertama kalinya ke daerah paling ujung Provinsi Aceh yang diapit 10 kabupaten. Saya hampir tak percaya, melihat panorama alamnya yang sanga indah. Mulai dari daerah perbukitan, laut, hingga hutan rawanya. Tak ada satupun yang dibiarkan berlalu dari tatapan mata kekaguman saya.

Saya memilih melakukan perjalanan darat dari Kota Medan, Brastagi, Kabanjahe, Nantampukmas (perbatasan Dairi dengan Pak Pak Barat), melewati perbatasan Sumatera Utara dengan Aceh yaitu Kota Subulussalam dan akhirnya tiba di Kota Singkil. Perjalanan darat lebih dekat bila ditempuh dari arah Kota Medan ketimbang dari arah Kota Banda Aceh. Lebih kurang sekitar enam jam perjalanan menggunakan L300.

Ohya, ke Aceh Singkil sekarang ini sudah bisa Anda dilalui melalui jalur udara dari Bandara Polonia Medan dengan menggunakan jenis pesawat kecil. Pesawat capung ini akan mendarat di lapangan terbang domestik yang terletak di Singkil Utara.

Begitu juga dari Kota Banda Aceh ke Aceh Singkil sudah bisa ditempuh dengan jalur udara. Lewat Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar, dengan menggunakan pesawat jenis kecil, Anda akat tiba di lapangan terbang domestik yang jaraknya dari pusat kota ke Singkil Utara sekitar 15 menit.

Pantai Gosong Telaga Hingga Pulau Sarok

Bangun dari perebahan penginapan Hotel Aneuk Laot, begitu membuka jendela yang mengarah ke laut, saya kembali terkagum-kagum melihat panorama yang menakjubkan. Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Aceh Singkil, Iran Fazri  beberapa waktu lalu kepada saya pernah menuturkan bahwa di Aceh Singkil terdapat beraneka kebudayaan dari berbagai suku yang menetap di sini.

Suku Pak Pak, Nias, Minang, Jawa, dan Aceh. Karena keragaman adat dan budayanya sehingga bahasa yang dipakai adalah bahasa jame. “Aceh Singkil  tidak saja kaya objek wisata religius, alam, rawa, tetapi juga kaya wisata budaya. Seperti budaya penyambutan tamu di atas robin (sampan) di Simpang kanan yang terus dilestarikan,” ujarnya.

Iran Fazri menginformasikan kalau di Aceh Singkil banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi seperti Pulau Banyak, Pantai Gosong Telaga, Pulau Sarok, dan Hutan Rawa Singkil. Karena penasaran saya pun memanjangkan langkah ke Pantai Gosong Telaga yang tak jauh dari tempat penginapan saya.

Sekitar 15 menit saya sudah tiba di Pantai Gosong Telaga. Tak salah disebut Pantai Gosong Telaga, karena teriknya matahari di pantai yang banyak ditumbuhi cemara laut ini akan mengosongkan kulit putih Anda. Di Pantai Gosong Telaga saya bisa menikmati lukisan kanvas langit yang sempurna. Teriknya mentari membuat langit di sini dibalut warna biru.

Di pantai yang lautnya berombak dan pasirnya yang berwarna krem ini saya berjalan menyelusuri pantai. Mata saya tertuju kepada pemancing mania. Mereka tidak menghiraukan teriknya sinar matahari, duduk di atas dermaga kayu yang tak utuh lagi sambil melemparkan kail ke laut.

Dari Pantai Gosong Telaga, saya pun melanjutkan perjalanan ke Pulau Sarok. Objek wisata pantai ini persis berada dibelakang Pendapo Bupati. Gradasi warna langitnya saat senja sangat menakjubkan. Apalagi saat sang camar terbang mengepakan sayap mengitari mercusuar yang berada di tengah laut.

Beberapa muda mudi terlihat bermalas-malasan duduk di pelabuhan, tempat feri lambat dengan tujuan ke Simeuleu bersandar. Mereka menunggu sunset dibibir dermaga. Tapi sayang sore itu sang mentari yang ingin turun diperebahannya bersembunyi dibalik awan yang kelam.

Rawa Singkil Surga Ekowisata

Orangutan Sumatera populasinya sekitar 7.000, di mana dalam catatan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Medan, tiga perempatnya berada di kawasan hutan Provinsi Aceh dan terbanyak di Kabupaten Aceh Singkil. Menurut catatan yayasan ini, per satu kilometer terdapat sekitar delapan orangutan di sini.

Setelah berwisata tak jauh dari pusat kota, saya melanjutkan perjalanan menuju Suaka Margasatwa (SM) Rawa Singkil dengan menggunakan robin bermesin mengitari Sungai Alas. Konon menurut sejarah, hutan rawa yang ada disepanjang Sungai Alas terbentuk dari abu letusan Gunung Toba yang meletus sekitar 74 tahun silam. Letusan Gunung Toba telah membentuk danau di tengah lembah Alas.

Tanah endapan gambutnya menyuburkan tanaman serta menghidupkan beragam satwa liar. Kemudian hutan rawanya ditumbuhi pohon miranti rawa dan  pohon malaka yang terbentuk dalam waktu beribu-ribu tahun.

Sekarang ini dari kabar yang saya terima dari masyarakat setempat, setelah isu pemanasan global menyebar, Rawa Singkil pun semakin dirawat. Apalagi di rawa yang dikenal sebagai surga ekowisata ini, berlindung puluhan satwa langka seperti orangutannya (pongo anabelii), harimau Sumatera, beruang madu, dan buaya muaranya (crocodylus porosus).

Robin kayu bermesin yang saya tumpangi tiba di Kuala Baru sebentar dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Padang Malaka (baca Padang Malako). Padang Malaka menurut cerita Ahmad, pemilik robin yang saya sewa adalah persingahan kedua masyarakat setempat sebelum warga yang hidup bertani dan berkebun ini menetap di Kuala Baru.

Sementara Suak Buga adalah tempat pertama  singgahan warga Kuala Baru. Di tempat inilah kesultanan pernah berdiri. Menurut cerita warga kampung yang saya temui sedang mencari lele, di Suak Buga terdapat Danau Hulu Bubuh. Danau ini memiliki keajaiban, pulaunya bisa berjalan sekali ke timur dan sekali ke barat.

Di danau ini pula banyak dihuni ular raksasa dan buaya muara. Sehingga saya pun membatalkan keinginan saya menuju ke danau yang dimaksud dan hanya menuju Padang Malaka. Di sini saya melihat daratan yang lumayan luas dan sepanjang perjalanan  melintasi gang-gang sempit yang ditumbuhi hutan bakong, saya melihat perahu-perahu kecil yang berawak satu hingga dua orang sedang mencari lele rawa.

Lele rawa seberat satu kilogram yang dicari warga dijual ke agen. Para agen ini mengumpulkan ikan lele rawa dan kemudian lele-lele ini di sale hingga kering. Lele sale dijual kepada para tamu yang berkunjung ke mari sebagai oleh-oleh khas di daerah ini. Jadi jika kemari jangan lupa membeli lele sale yang meski berukuran besar namun dagingnya tetap manis meski telah di asapin.

Saya kemudian melanjutkan perjalan mengitari rawa yang airnya berwarna kemerah-merahan. Dalam perjalanan itu, saya melihat hutan rawa yang ditumbuhi pohon-pohon rawa. Terlihat beberapa orangutan yang bergantung di batang pohon.

Saya juga melihat itik bertopeng, elang kepala abu-abu, bangau rawa, dan rangkom hitam. Sungguh pemadangan yang manakjubkan, jadi tak salah jika di SM Rawa Singkil dikatakan surga ekowisata.

Aceh Singkil tidak saja kaya objek wisata rawanya. Tetapi juga memiliki pantai yang indah. Jadi Anda tinggal memilih, memulai perjalanan Anda ke pantai atau ke Rawa Singkilnya dulu. Karena keduanya sama-sama mengasyikan.(Saniah LS/acehtourism.info)

Advertisements
  1. Wanhar Lingga

    di Aceh Singkil terdapat beraneka kebudayaan dari berbagai suku yang menetap di sini, Suku Pak Pak, Nias, Minang, Jawa, dan Aceh. Karena keragaman adat dan budayanya sehingga bahasa yang dipakai adalah bahasa jame.

    redaksi ini ada yang kurang tepat, di kab.aceh Singkil mayoritas Suku Singkil dan sebagian pak-pak,jame, jawa, aceh, dan bahasa yang di pakai di Kab. Aceh singkil. Bahasa singkil, sebagian bahasa jame di daerah pesisir pantai. terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com