Round Kelana, Pelukis Tiga Zaman

Saat berkunjung ke Museum Aceh, Museum Tsunami Aceh, Kantor Gubernur, dan Perpustakaan Aceh, kita akan melihat deretan lukisan dari sang maestro seniman lukis Aceh, Round Kelana. Beliau telah berjasa menampakkan sejarah lebih nyata di hadapan kita dalam setiap goresan kuasnya di atas kanvas.

Sebut saja beberapa lukisan beliau tentang musibah Tsunami Aceh 2004 yang kita saksikan di Museum Tsunami Aceh Banda Aceh. Menurut pengakuan beliau kepada saya, lukisan itu berdasarkan cerita dari mereka yang selamat saat air bah menghantam Aceh 9 tahun silam.

Bahkan beliau sendiri juga salah seorang korban tsunami yang berhasil selamat setelah diombang-ambing gelombang dan tersangkut di atap rumah warga berjarak sekitar tiga kilometer dari kediaman beliau di Lam Dingin Jalan Syiah Kula, Lorong Bransyah No.2, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh.

Saat tersadar dari hantaman gelombang dasyat itu, Pak Round sudah di atas tumpukan sampah yang mengapung bersama air bah, sampai akhirnya beliau terdampar di atap rumah orang. Ketika hidup di ujung nadir dan nyawa di ujung rambut itulah, Pak Round melihat sekelompok burung nazar beterbangan di langit, seperti menanti saat yang tepat menyantap hidangan lezat pada tubuh yang sebentar lagi tak bernyawa.

Di situasi kalut seperti itu, terlintas di benak beliau wajah seorang teman yang juga pelukis mengajak beliau ikut serta terbang bersamanya. Baru diketahui setelah selamat dari peristiwa itu, ternyata sahabat beliau yang sempat membayang di pikiran telah pergi untuk selamanya terseret gelombang tsunami.

Pak Round Kelana biasa kami panggil ‘Yahwa’, yang dalam bahasa Aceh berarti orang tua yang dihormati atau kakek. Sejak tahun 2007, pasca gempa dan tsunami, Yahwa Round tidak lagi dapat melukis akibat penglihatan beliau sudah kabur. Namun bila kita mendatangi rumahnya, beberapa lukisan masih tergantung di ruang tamu. Tidak banyak, tetapi cukup untuk mewakili bahwa beliau adalah pelukis Aceh yang sudah dikenal secara nasional.

Minat melukis Yahwa Round sudah tumbuh seiring dengan pertumbuhan dirinya sendiri sebagai manusia. Dirinya sudah mulai tertarik dengan melukis sejak usia dini, yaitu sejak usia Sekolah Dasar yang saat itu masih bernama Sekolah Rakyat.

Round muda sudah mulai melukis di atas alas apa saja, dengan menggunakan pewarna alami seperti kunyit, serta kuas yang terbuat dari daun nipah. Saat itu daun nipah digunakan kebanyakan orang sebagai pembungkus tembakau untuk rokok. Daun nipah yang diambil pun harus yang muda atau pucuknya.

Ketika sudah dikupas lapisan dalamnya, lalu dijemur di terik matahari untuk beberapa waktu tertentu, sehingga keringnya akan berupa gulungan daun bewarna putih atau kekuningan. Yahwa Round menggunakannya sebagai pengganti kuas, karena daun nipah memiliki serat berupa bulu-bulu halus yang bisa berfungsi sebagai kuas. selain kunyit sebagai pewarna, Yahwa Round juga sudah mengenal gincu yang digunakan sebagai pengganti cat karena harganya murah dan tersedia dalam beberapa warna.

Kebiasaan ini berlangsung lumayan lama, ketika saya menanyakan pastinya berapa lama ia menggunakan media itu untuk alat lukis, beliau hanya geleng-geleng kepala alias sudah tidak ingat. Juga ketika saya bertanya usia berapa kira-kira Yahwa menamatkan Sekolah Rakyat, beliau juga sudah lupa.

Menurut Yahwa Round, beliau ingat saat itu ada seorang penderma dari Meulaboh yang terkesan dan mendukung bakatnya, pada saat dirinya telah tamat dari Sekolah Rakyat. Penderma tersebut menghadiahi beliau sebuah cat air. Yahwa tak dapat menyembunyikan kegembiraannya saat itu karena mendapatkan hadiah cat untuk melukis.

Jadilah waktu itu sebagai hari pertama Yahwa memiliki cat lukis. Kemudian ketika penulis bertanya apakah yahwa masih ingat siapa nama penderma dari Meulaboh tersebut yang telah menghadiahinya cat lukis, yahwa sama sekali tak ingat lagi, bahkan sampai sekarang. (Sumber: Tuhan dua Timur dua Barat, Sebuah Oto Biography Round Keulana, Dedy Ibrajoem Moesa).

Round muda juga pernah menjadi anak rantau. Di tahun 1958, beliau sudah meninggalkan Nagan Raya menuju Blang Kejren Gayo Lues, memakan waktu tujuh hari tujuh malam naik turun gunung hanya dengan berjalan kaki dan membawa bekal seadanya. Sesampainya di Blang Keujren, beliau sempat menjadi buruh penyadap karet sebelum akhirnya hijrah lagi ke Kuta Cane Aceh Tenggara.

Di sini Yahwa bertahan hingga enam bulan lamanya, dan lagi-lagi bekerja di perkebunan. Menurut Yahwa, saat melakukan hijrah panjang itulah namanya diganti dari Harun Sabi menjadi Harun Kelana. Perjalanan kemudian berlanjut hingga ke Sibolga, Sumatera Utara.

Di sana beliau berkenalan dengan seseorang bernama Halik, dan menjadi pelukis kaki lima. Berkat Halik, kemudian nama Harun diganti dengan Round, sehingga lengkapnya menjadi Round Kelana.

Dalam perjalanan berkeseniannya, Yahwa Round tidak hanya melukis di atas kanvas, beliau juga membuat komik sejarah perjuangan Teuku Umar dan Tjut Nyak Dhien. Ide itu muncul ketika beliau membaca buku sejarah ‘Aceh Sepanjang Abad’ yang ditulis oleh Muhammad Said. Kemudian Yahwa membukukan komiknya dengan judul ‘Peristiwa Hok Canton’.

Sedangkan buku sejarah ‘Srikandi Atjeh’ yang ditulis oleh HM. Zainuddin dibuat versi komiknya dengan judul ‘Maka Kembalilah Sang Johan Pahlawan’. Kedua buku komik tersebut menceritakan kisah sejati perjuangan Tjut Nyak Dhien dan pelurusan sejarah tentang keberpihakan Teuku Umar kepada Belanda, hingga kemudian diberi gelar Johan Pahlawan.

Yahwa mengaku saat membaca kedua buku sejarah itu, dirinya tergugah untuk menjadikannya sebuah buku komik yang mudah dibaca dan ditelaah oleh siapa saja. Jadi kisah serius dan mungkin membosankan bagi sebagian orang itupun menjadi bacaan menarik, karena versi komik selain ada cerita tulisan juga dilengkapi oleh gambar komik yang tidak sedikit pun mengurangi roh awal dari buku sejarah aslinya tersebut.

Menurut Yahwa, pembuatan buku versi komik itu murni keinginan yang mucul dari dalam dirinya. Setelah kemudian diketahui oleh pejabat Perpustakaan Daerah, baru kemudian buku komik tersebut diperbanyak seperti sekarang. Menurut Yahwa selain niat menjadikan buku sejarah tersebut menjadi bacaan ringan juga dikarenakan ketertarikannya terhadap versi lain sejarah memihaknya Teuku Umar kepada Belanda.

Menurut versi sejarah yang Yahwa dengar dari mulut ke mulut, Teuku Umar menyeberang ke pihak Belanda murni karena trik atau tipuan semata agar dapat masuk ke kesatuan Belanda yang akan mempermudah aksesnya terhadap strategi dan siasat perang, juga persenjataan Belanda.

Namun, menurut buku Srikandi Atjeh, menyeberangnya Teuku Umar ke pihak Belanda bukanlah tipuan semata, tapi memang benar Teuku Umar beserta perwira, panglima, dan pengikut-pengikutnya, berpihak pada Belanda.

Sekarang setelah semua berlalu dan karya-karyanya banyak dikoleksi orang, serta tak lagi mampu menghasilkan karya-karyanya yang baru, hanya satu pertanyaan yang selalu terulang ketika setiap saya ber-silaturahmi ke rumah beliau yang dibangun di atas puing bekas rumahnya yang telah diberangus oleh tsunami.

“Dedy, kapan kamu cetak buku otobiografi saya?”. Sebuah pertanyaan yang jawabannya tidak dalam kemampuan saya.

Catatan penulis:

Sebenarnya saya menemukan masalah mengenai tanggal lahir dan tahunnya karena beliau tidak mengetahui secara jelas mengenai hal itu, tetapi mendengar cerita beliau bisa dikaitkan bahwa beliau lahir sekitar tahun kemerdekaan yaitu pada tahun 40-an, bertempat di Jeuram-Kabupaten Nagan Raya, Aceh. Beliau pernah melakukan pameran sampai ke Malaysia pada tahun 2006, dan telah ikut pameran tak terhitung di Banda Aceh.

—–

Teks & foto: Dedy Ibrajoem Moesa

Advertisements

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com